Banjir Darah
Oleh Indah Wiharti
Menyempatkan
waktu untuk mengunjungi ambruknya jembatan Progo, ada dorongan kuat yang
menyeret langkahku ke tempat ini. Entah karena rasa nasionalisme kebangsaannya muncul, atau kekecewaan,
kepedihan, kemarahan, dan apapun alasannya yang jelas di bawah rintik hujan di pinggir kali
Progo aku menatap nanar. Ingin rasanya berteriak, mengapa cagar budaya ini disia-siakan? Mengapa tidak
dirawat? Mengapa dibiarkan terbengkelai? Mengapa dibiarkan semakin rapuh
tergerus air sungai dan mengapa besi-besi kokoh ini dibiarkan keropos oleh waktu?
Aku
berdiri di pinggir kali Progo, di atas
tanah dan rerumputan yang basah karena
hujan seharian. Meskipun begitu tidak
menyurutkanku untuk sekedar memanjatkan doa kepada para arwah yang
telah mati terbunuh di kali ini. Mereka mempertaruhkan jiwa dan raga untuk
kemerdekaan bangsanya. Di ujung jalan tampak beberapa orang memperbincangkan
ambruknya jembatan yang sangat bersejarah bagi daerahnya. Dengan nada kesal
lelaki yang memakai sarung dan kaos oblong itu berbicara dengan nada tinggi
sambil menunjuk-nunjuk ke arah kali.
“Coba
lihat dinding kanan kiri jembatan ini Kang, sudah terkikis oleh derasnya arus
sungai, pantaslah tiang penyangga tidak mampu menahan beban,” kata orang itu
kepada temannya.
“Bagaimana
tanggungjawab pemerintah daerah menyikapi ambruknya jembatan ini? Apakah hanya
akan diam seperti kemarin?” lanjutnya penuh kesal.
“Mestinya
pemerintah daerah malu kepada dunia, jembatan ini memiliki nilai sejarah yang
tinggi bahkan sudah dijadikan cagar budaya. Tetapi dibiarkan mangkrak
dan tidak diperhatikan keberadaannya,”
“Mereka
sibuk membangun yang menguntungkan kroninya saja, Kang.”
“Apakah
mereka lupa bahwa di jembatan ini, pada masa agresi militer Belanda Tahun
1948-1949 ribuan pemuda dan pejuang digorok dan dibantai
?”
“Entahlah
Kang, kita lihat saja apa yang akan dilakukan pemerintah daerah untuk tempat
bersejarah ini.”
Kemudian
mereka pun meninggalkan tempat itu, aku sangat memahami kemarahan dan
kekecewaan masyarakat atas tragedi tersebut.
***
Merasa
penasaran tentang tragedi pembantaian massal di jembatan Progo, aku segera
membongkar tumpukan buku-buku sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada masa
agresi militer II pada tahun 1948-1949. Sebuah tragedi heroik yang sangat
menyakitkan pernah dialami para pemuda dan pejuang Republik Indonesia. Saksi
sejarah yang lolos dari pembantaian itu menuturkan cerita yang membuat air mata
ini menetes deras, sangat sadis.
Ribuan
pemuda yang dieksekusi di jembatan Progo tanpa pengadilan terlebih dahulu.
Beberapa orang yang di bawa pergi dari kamp atau penjara di malam hari untuk
kemudian tak pernah kembali lagi. Mata
tertutup kain hitam, kedua tangan diikat dibelakang tubuh mereka. Dinaikkan
truk dan dibawa pergi entah kemana. Mereka saling membisu, tak berani
mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya suara deru kendaraan melaju kencang di
tengah keheningan malam dan berhenti di suatu tempat. Mereka tidak
mengetahui diberhentikan di daerah mana dan tempat apa. Semua gelap. Yang mereka dengar dan rasakan mereka
diturunkan di pinggir sebuah sungai, air sungai sedang meluap sehingga arusnya terdengar begitu keras.
“
Semua turun satu persatu, cepat!” perintah salah satu serdadu hitam anthek
Belanda. Mereka penghianat bangsanya sendiri.
Para
pemuda dan pejuang yang masih terikat tangan dan tertutup matanya itu dipaksa
segera turun dari truk. Mereka di
dorong, di pukul dengan kayu agar segera
turun kemudian diminta untuk berbaris.
Di tengah kegelapan malam mereka berbaris antri menunggu pemenggalan dan
eksekusi mati. Satu per satu para pejuang itu dibantai. Di penggal kepala terpisah dari badan, kemudian di
dorong ke sungai. Banjir darah tak terelakkan, sekejap air sungai memerah
kemudian mayat dan kepala yang terpisah
itu hilang terbawa arus sungai.
Tak
sempat bertanya dan membela diri, mereka
menerima hukuman keji itu tanpa daya, pasrah. Hanya keyakinan di dada para
pejuang itu, demi harga diri dan kemerdekaan bangsa mereka rela menerima
hukuman. Mereka yakin Tuhan sudah menyiapkan balasan surga untuk pengorbanan
ini.
Membayangkan
tragedi itu membuatku tak bisa memejamkan mata, terlihat di pelupuk mata para
pemuda yang gagah berani mempertaruhkan nyawa demi kejayaan bangsa. Kuputuskan
sepulang sekolah besuk sore aku akan mendatangi tempat bersejarah ini kembali.
***
Menunggu
hujan reda siang ini terasa membosankan.
Aku melirik jam dinding di sekolahku menunjukkan tepat pukul 15.00 WIB. Keinginan segera
mengunjungi lokasi pembantaian para pejuang di kali Progo membuat waktu
berjalan lambat. Dering pesawat genggam di saku mengagetkan lamunanku.
“Halo….,”
terdengar suara di seberang sana. Suara seorang teman yang sangat peduli pada sejarah, dan selalu
mengiyakan ajakan-ajakanku berdiskusi masalah sejarah.
“Halo
juga Mas Bro, hujan rupanya menghalangi niat kita,” kataku membuka pembicaraan.
Aku memang sengaja mengajaknya berkunjung ke jembatan Progo untuk menelusuri
jejak sejarah masa lalu. Kebetulan hari Sabtu ia libur karena kantornya lima hari kerja.
“Ya,
aku sudah sampai di Secang nih. Basah kuyup,”
“Dirimu
naik apa? Sepeda motor?”
“Begitulah,
aku berhenti sebentar harus memakai jas
hujan. Tadi sengaja terus lanjut eh hujan makin deras.”
“Ok,
hati-hati di jalan Mas Bro langsung ketemu di TKP ya,”
“Siap,”
begitu kata Hermawan yang biasa saya
panggil Mas bro. Hermawan seorang ahli sejarah, lulusan Universitas Indonesia.
Selain sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta ia juga
seorang penulis sejarah yang handal. Buku-buku karyanya sering saya gunakan
sebagai rujukan dalam penelitian yang saya lakukan.
Masih
menyisakan rintik hujan sore ini, aku segera bergegas ke tempat parkir memakai
jas hujan dan langsung tancap gas menuju jembatan kali Progo Kranggan. Sepuluh
menit kemudian aku sudah sampai di TKP. Menunggu kedatangan Hermawan aku masuk
ke warung makan sebelah jembatan memesan
dua gelas jeruk panas dan ayam bakar kesukaan kami. Berharap sesampainya di
tempat ini Hermawan langsung dapat menikmati segelas jeruk panas agar rasa
dingin karena kehujanan sepanjang
perjalanan tadi segera hilang.
“Ciiiiiiit…..,”
suara rem motor Hermawan memekakkan
gendang telingaku, ia berhenti tepat di depan warung kemudian memarkir sepeda motor kesayangannya di tempat
itu.
“Hai….dah
lama menunggu, Nis?” kata Hermawan
dengan senyuman khasnya.
“Baru
lima menit yang lalu, duduk-duduk di
sini dulu. Kita nikmati rezeki nomplok sore ini,” kataku sambil mempersilakan Hermawan
duduk di sampingku.
“Jam
berapa tadi berangkat dari Jogja?”
“Sekitar
jam dua, sebenarnya ada acara juga hari ini. Biasa kumpul-kumpul dengan
beberapa komunitas sejarah membahas agenda ekspedisi jalur kuno berikutnya,”
“Wao….jangan
lupa kabari diriku yo. Kapan rencananya?”
“Belum
tahu, khan aku memilih ketemu dirimu tho. Hehehehe …,”
“
Hehe …,” aku tertawa mendengar dia lebih memilih berdiskusi denganku.
“Sebelum
kita mendekat ke arah pinggir sungai sebaiknya
kita santap dulu masakan khas yang top
markotop ini, Her.” Kami pun melahap kuliner khas daerah Kranggan, bumbu
ayamnya terasa sekali rasa rempahnya. Rasa manis dari kecap cap Cangak menambah
lezatnya ayam bakar ini, ditambah perut
kosong dan udara yang dingin menjadikan
makan sore kali ini tarasa lebih nikmat
dari biasanya.
“Kita
langsung menuju monumen tragedi pembantaian saja ya, nanti dirimu bisa bertanya
apa saja,” Aku mengangguk tanda setuju. Kami berjalan menuju lokasi sambil terus
berdiskusi.
“Tadi
saya membaca berita dari koran, banyak pihak menyesalkan lambannya Pemerintah
Daerah menangani kasus ini. Sangat disayangkan cagar budaya, jembatan
bersejarah sebagai saksi bisu kekejaman Belanda kala itu, dibiarkan begitu
saja.”
“Yach
begitulah, saya juga heran mengapa banyak kasus beberapa cagar budaya (di banyak tempat) dibiarkan mangkrak.
Kesannya tidak dirawat,”
“Alasannya
kurang menjanjikan uang banyak, bisa jadi dengan merawatnya justru banyak
mengeluarkan uang,”
“
Nah, pemikiran macam itu (selalu uang dan uang) yang jadi prioritas menjadi
penyebab menurunnya karakter bangsa”
“Ambruknya jembatan Progo jelas memperlihatkan
kepada dunia lunturnya kepedulian kita terhadap sejarah,”
“Pemerintah
daerah harus bertanggung jawab membangun kembali jembatan ini,”
“Semoga
segera terwujud, konstruksi jembatan yang mirip jembatan Progo lama harus tetap
ada, agar para arwah yang jiwanya melayang di tempat ini tidak bersedih.”
Aku
dapat merasakan jeritan tangis para arwah yang telah mengorbankan jiwa raganya
di tempat ini. Mereka yang telah mati tidak menuntut untuk dihormati, dipuji,
disanjung, namun cukup dikenang dan satu
permintaan jangan sia-siakan sejarah. Jangan terulang pada cagar budaya di
manapun berada. Cukup jembatan Progo ini saja!
Kami
diam terpaku memandangi air sungai yang keruh karena lumpur yang tergerus
derasnya hujan. Bau anyir dari ikan
–ikan yang mabuk karena lumpur itu sangat menyengat hidung. Barangkali bau
anyir serupa dahulu bercampur baur dengan darah segar dari mayat-mayat tak
berdosa yang hanyut terbawa arus kali.
Kepedihan begitu sangat kurasakan, seakan arwah mereka menangis tersedu sedan
di hadapanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, tak juga bisa menolong. Aku juga
merasakan gundah gulana. Melalui jeritan
kata hati ini kusampaikan kepada dunia bahwa mereka (para pejuang yang telah
mati) berduka atas ambruknya jembatan ini. Yach, betul kata semua orang bahwa
tragedi ini sebagai bukti dari kami para generasi penerus bangsa dan terutama
pemerintah telah mengabaikan sejarah. Jangan sekali-kali bilang: Kami tak
abaikan sejarah! Perkataan itu sangat melukai hati karena kenyataannya sungguh
telah terabaikan. Lihat dan buka mata selebar-lebarnya.
Aku
dan Hermawan larut dalam pikiran masing-masing. Satu setengah jam di pinggir
kali bersama Hermawan sore ini terasa begitu singkat, namun banyak hal yang
kami diskusikan. Andai masih banyak waktu ingin rasanya berdiskusi tentang
sejarah kotaku yang luar biasa. Senja semakin beranjak gelap, aku dan Hermawan
sepakat untuk meninggalkan tempat ini, tempat yang meninggalkan luka lama. Butuh waktu panjang untuk memahami suatu
tragedi sebagai sebuah pembelajaran. Hanya orang-orang yang mau belajar
dari sejarah masa lalu yang memiliki
jiwa nasionalisme tinggi.
***
|
#Cerpen ini telah dipublikasikan dalam sebuah buku dengan judul 'Dari Luka Aku Berkarya'
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar